Ruh dan nafsu, adalah dualitas yang selalu ada pada setiap manusia. Bicara masalah ruh adalah riskan karena Allah berfirman : ” Kalau ada yang tanya tentang RUH, maka jawablah RUH adalah urusanku, mereka tidak diberi pengetahuan itu kecuali cuma sedikit”. Nah kita akan bicara RUH dari pengetahuan yg sedikit tersebut. Kita ketahui pada 3 bulan di kandungan sang ibu, Allah meniupkan Ruh-Nya pada sang jabang bayi. Artinya Ruh adalah sesuatu yang sangat suci, yang datang dari Allah. Pertanyaannya adalah mengapa Allah meniupkan Ruhnya? Apakah agar sang jabang bayi hidup ? jelas bukan, karena usia 1 s/d 3 bulan di kandungan jabang bayi dikatakan hidup. Lihatlah hewan dan tumbuhan, keduanya tanpa ruh namun tetap hidup, karena yang membuat hidup adalah nafs (Daya hidup), kata Allah ” Kullu nafsin dzaiqatul maut” sesungguhnya setiap yg punya nafs(hidup) akan mati”.
Kita lanjutkan tentang RUH, Sebenarnya tujuan ditiupkan Ruh adalah sbg pembimbing manusia ke jalan yg benar yaitu jalan Allah. Garis besar Tujuan setiap insan dihidupkan didunia ini adalah “Wa maa kholaktu jinna wal insa illa liya’buduun” pasti dan pasti untuk beribadah. Artinya RUH ini adalah akan membimbing manusia untuk kembali kepadaNYA . Ruh adalah dari Allah dan Akan kembali kepada Allah, begitu juga dengan “diri” kita ”Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun”. Tetapi apakah semudah itu Ruh membimbing manusia, tentu tidak, karena sang insan juga mempunyai nafsu, ibarat syaitan wujud manusia inilah yang akan menjadi penghalang Ruh membimbing insan, nafsu inilah yang membimbing kita ke jalan sesat. So…siapakah diri kita, RUH atau nafsu ?
Berlanjut kepada RUH dan Nafsu bagian kedua






