Wali sudut pandang Dul

Waktu kecil( sekitar tahun 80an) Dul dibesarkan dilingkungan NU yang sangat kental. Pengajian , dibaan, ratiban dan ziarah kubur adalah kegiatan yang biasa di Lawang, sebuah kecamatan di kabupaten Malang. Masyarakat disini dulu (bukan sekarang) sangat menghormati yang namanya Ulama’ baik Kyai maupun ustadz. Aplagi kalo ada pengajian akbar yg pembicaranya dari Sidoarjo, namanya Gus Ali dg gaya pakaian yg nyentrik pake kaos oblong dibungkus jas dan sarung dengan alas kaki bakiak, dan tidak lupa satu kaleng rokok disakunya. Gigi dan pipi ompong ternyata tidak mewakili suaranya yang menggelegar dalam menyampaikan tausyiah. Gaya bicaranya yg ceplos – ceplos dan kadang kearah porno malah disukai oleh kawula muda yang alim maupun yang agak preman.

Pada satu kesempata Dul pernah ziarah ke 5 Wali di Jawa Timur bersama rombongan Gus Ali. Makam para wali yg dikunjungi adalah Sunan Ampel di Surabaya, Sunan Bonang di Tuban , Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, dan Sunan Drajat di Lamongan. Dalam hati Dul kecil berpikir, apa sebenarnya Wali itu, sudah beratus tahun meninggal, namun masih banyak saja yg berziarah, bahkan setiap tahun pada bulan mulud dan bulan ramadhan. Si Dul pernah bertanya kepada ayahnya ttg Wali. Sang ayah hanya menjawab, Wali adalah kekasih Allah.

Kita tinggalkan Dul kecil dengan pengertian bahwa wali adalah kekasih Allah yg punya karomah. Kita beranjak kepada Dul yang sudah kerja dan melanglang buana di Jakarta. Ternyata Dul besar meneruskan kebiasaan ziarah dari kecil hingga sudah kerja. Bersama temannya matpher,  Dul pernah ziarah ke daerah banten, Garut, tasik hingga ke Jawa tengah. Ziarah – ziarah Dul dengan tujuan berkunjung kepada sang Wali, bertakjim dan berdoa kepada Allah dan mengingat mati. Namun Dul sekarang punya pengertian yang agak nyleneh tentang Wali.

Dul menggambarkan Wali seperti seorang lelaki jatuh cinta kepada seorang gadis, ntah karena kecantikannya, baik budinya, atau halus tutur katanya. Karena cinta itu sang lelaki rela menempuh jalan jauh berpuluh kilometer untuk menemui pujaannya.  Dan karena cinta itu sang lelaki rela mati untuknya, bahkan sang pria takkan mampu hidup tanpa yg dicintainya. Apabila sang pujaan tak kunjung menerima cintanya, maka sang lelaki akan terus berharap, rela sampai lupa makan dan minum, sampai badan kering kurus, dia akan tetap menanti…demi cinta.

Dari kiasan diatas, Apakah kita cinta denganNya ? Apakah kita rindu untuk sholat dan berdialog denganNya? Apabila Rahmat tak kunjung tiba, akankah kita masih mencintainya, apakah kita masih terus berdoa ?

Apabila jawabannya tidak, maka kita masih jauh sebagai kekasih Allah….Wali Allah…😀

2 Responses

  1. Ali Imran ayat 31

    Ittabi’uuni wala Tabtadii.

  2. assalamualaikum..sahabat..bagus artikel kamu ya..
    pandangan yg sgt bernas dan jitu..
    jemput ke blog saya http://halimelqeat2.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: