Memahami dualitas dan melampauinya

Dalam tiap hidup manusia selalu dihadapkan kepada dua hal yang saling berlawanan, ya itulah dualitas anugerah dari Allah. Ada hitam dan putih, jahat dan baik, susah senang, sedih gembira, miskin kaya, panas dingin, dan banyak lagi.  Dualitas itulah keseimbangan, dalam ajaran Tao dilambangkan dengan  Yin dan Yang, dimana digambarkan dengan dua energi yang mempunyai sifat berlawanan.

Sebagai masyarakat Jawa mungkin kita tidak asing dengan bunyi aksara jawa  dibawah ini :

ha na ca ra ka
da ta sa wa la
pa da ja ya nya
ma ga ba ta nga

Yang dapat diartikan kurang lebih sebagai berikut, ada suatu cerita, datanglah dua kstaria saling bertarung, sama – sama jaya (kuat), namun akhirnya keduanya mati. Seakan dalam aksara jawa tersebut mengisyaratkan bahwa ada dualitas didunia ini yang sama besarnya dan sama kuatnya, namun itu hanya fana karena keduanya akan musnah juga.

Dualitas – dualitas tersebut selalu akan lekat dan terus – menerus bersama kita sebagai diri maupun dalam skala kampung atau negara sekalipun.

Ga percaya ? Mekkah, ya itulah kota yang disebut sebagai tanah haram, yang didalamnya ada ka’bah, dan konon katanya orang non muslim dilarang masuk daerah tersebut. Apakah anda yakin dalam kota tersebut baik semua, atau lebih extreme lagi apakah anda yakin bahwa semua yang menjalankan tawaf dan sa’i, umroh dan haji disana semua membawa kebaikan dalam hatinya? mmh mungkin anda terkejut, ya gpp namun saya secara pribadi berpendapat tidak semua yang berhaji dan umroh dengan niatan ibadah. Dimana suatu daerah mempunyai kebaikan dan kesucian disitupun akan ada juga kejahatan dan kebusukan. itulah dualitas. Kita sering melihat di media, TKI pulang ke tanah air membawa anak haram. Kita sering dengar TKI pulang ke kampung halaman dengan badan lebam – lebam karena siksaan.

Kita terima dualitas sebagai hukum alam. Dualitas itu akan memberikan pelajaran kepada kita, sehingga kita bisa melihat sesuatu bukan secara hitam putih saja, tapi bisa mengambil hikmahnya.

Namun, apakah kita berhenti sampai disitu saja ?  tentu tidak, manusia sebagai khalifah fil’ard dituntut untuk melampaui dualitas tersebut dengan kesadaran bahwa semua itu adalah karunia Allah.  Maka dalam keadaan kesusahaan pun kita masih bisa tersenyum dengan kesadaran  inna ma’al usri yusro bahwa di dalam kesusahan akan diikuti kemudahan.  Kalo kita melihat hal yang negatif, kita doakan saja semoga diberikan petunjuk olehNya, kita ga perlu marah atau benci, seperti Rasul Muhammad yang selalu berkata “Mungkin mereka belum tahu”.

Ya, sekali lagi rasulullah adalah contoh manusia yang melampaui dualitas. Lihat Rasulullah pernah dan sering diludahi, dan dilempari kotoran saat pergi ke masjid, namun beliau tidak marah dan tidak benci, malah saat pelaku sakit Rasulullah datang menjenguk, dan beliau adalah yang pertama dan satu satunya yang menjenguk orang yang selama ini mengganggu beliau. Dan selanjutnya ?, orang tsb tersungkur menangis didepan beliau dan menyatakan diri sebagai pengikut beliau.

Bahkan dualitas surga dan neraka pun sudah tidak ada yang ada adalah tujuan kembali kepadaNya.

7 Responses

  1. Kira-kira apa yang terjadi jika tak ada dualitas kehidupan kang? Apakah hidup terasa membosankan, ataukah hidup dalam kekacauan?

  2. Ya kenyataannya dualitas itu ada, membuat hidup lebih berwarna, kalo tdk ada dualitas saya ga tahu…karena kenyataannya tidak ada😀

  3. Dengan memahaminya, bukan berarti kita dapat meninggalkan dakwah dalam jalan Amar ma’ruf nahi munkar…………..! esensinya adalah berdakwah dengan tetap menjunjung tinggi nila-nilai ukhuwah.

    ketika anda mengambil ilmu atau aturan delain dari aturan allah maka ketauhidan anda pun dipertanyakan…! afwan jidan ana koreksi, karena alqur’an sudah lengkap mengapa anda berdakwah dengan menggunakan yin-yang dari agama kaum musyrikin……?

  4. kalau anda yakini yin dan yang itu benar ilmunya (aturannya) maka anda meyakini sesuatu diluar aturan allah…. he he…. Fainna asdaqol haditsi kitaaballah.

  5. Jawaban saya adalah iqra’, untuk yang tertulis maupun tidak, karena Allah menghamparkan ayat2 di alam semesta

  6. ayat-ayat tertulis menegaskan dan memerintahkan kita agar tidak menyerupai suatu kaum.

    mohon diperhatikan lagi tulisan ana ! “Maka jika anda meyakini sesuatu diluar aturan allah itu benar ilmunya (Yinyang) maka anda meyakini sesuatu diluar aturan allah.

    Iradah syarriyyah tidak allah jelaskan dalam alam semesta ini om !

    silahkan antum mengambil ilmu dari ayat-ayat yang terhampar dialam semesta tersebut akan tetapi tetaplah tolok ukur yang menjadi patokan adalah Al qur’qn yang tertulis. karena lebih real dan tidak menimbulkan syak.

  7. apakah antum meyakini ada dien selain islam ?

    dien = aturan.

    he he. maka dari itu tidak ada aturan melainkan hanya aturan allah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: